Kamis, 07 Maret 2013

makalah manusia purba



MAKALAH SEJARAH
“KEHIDUPAN MANUSIA PURBA DI MASA BERBURU DAN MERAMU TINGKAT SEDERHANA”
 







OLEH :
                                      NAMA       : YULI LESTARI
NIM           :1264041004
JURUSAN   :PEND. IPS TERPADDU


UNIVERSITAS NEGERI MAKASSAR
TAHUN AJARAN 2013/2014

KATA PENGANTAR
            Puji syukur tak henti-hentinya kita ucapkan kepada Allah SWT yang telah memberikan kita kesempatan bernafas menghirup gas O2 dan menghembuskan gas CO2, sehingga kita masih bisa berdiri di atas bumi yang penuh dengan berbagai cpitaan dari Allah SWT. Begitupun kita tak lupa mengirimkan shalawat dan salam kepadda nabi Muhammad SAW. Yang telah membukakan kita pintu menuju jalan yang disinari oleh cahaya yang terang bendrang.
            Ucapan terima kasih pula saya ucapkan kepada dosen pembimbing dalam makalah “Sejarah Manusia Purba” yang telah memberikan saya arahan dalam mempelajari makalah ini. Dalam makalah ini akan dijelaskan mengenai pola kehidupan dari manusia purba, mulai dari sistem sosial prekonomian, sosial budaya, kepercayaan, dan pola berburu dan mengumpulkan makanan.







Makassar 28, maret 2013

Yuli Lestari


DAFTAR ISI
KATA ENGANTAR………………………………………………………………………..i
DAFTAR ISI………………………………………………………………………………ii
PEMBAHASAN
1.      Sistem Sosial Budaya Manusia Purba………………………...…………………...1
2.      Sistem Budaya Kepercayaan Manusia Purba……………………………………5
3.      Sistem Kebudayaan Manusia Purba……………………………………………...7
4.      Siistem Pola merburu dan Meramu Makanan…………………………………..9
PENUTUP
DAFTAR PUSTAKA………………………………………………………………………15



A.    Sistem Sosial Perekonomian Manusia Purba
Sebagai manusia, manusia purba pun adalah makhluk sosial yang melakukan interaksi, atau komunikasi antara sesama makhluk hidup, namu komunikasi yang mereka lakukan tidak sama dengan komunikasi yang kita lkukan seperti saant ini. Begitupun dengan kehidupan perekonomian manusia purba, sebagai makhluk sosial mreka juga melakukan kegiatan perekonomian, walaupun mereka tak sadar bahwa mereka melakukan kegiatan perekonomian. Berikut ini akan di jelaskan mengenai kehidupan sosial perekonomian manusia purba.
·        Kehidupan Sosial
 Pada masyarakat food gathering, mereka sangat menggantungkan diri pada alam. Dimana daerah yang mereka tempati harus dapat memberikan persediaan yang cukup untuk kelangsungan hidup. Oleh karena itu mereka selalu berpindah-pindah.
Sebab mereka hidup berpindah-pindah adalah sebagai berikut:
a. Binatang buruan dan umbi-umbian semakin berkurang di tempat yang mereka diami.
b. Musim kemarau menyebabkan binatang buruan berpindah tempat untuk mencari sumber air yang lebih baik.
c. Mereka berusaha menemukan tempat dimana kebutuhan mereka tersedia lebih banyak dan mudah diperoleh.
·         Mereka masih hidup mengembara. Tempat tinggal sementara di gua-gua. Ada pula kelompok yang tinggal di daerah pantai
·         Mencari makanan berupa binatang buruan dan tumbuh-tumbuhan liar di tepi sungai atau danau. Mereka mencari kerang sebagai makanannya.
·         Mereka hidup dalam kelompok-kelompok kecil untuk memudahkan pergerakan dalam mengikuti binatang buruan/ mengumpulkan makanan.
·         Dalam kelompok-kelompok tersebut terdapat pembagian tugas kerja. Laki-laki pada umumnya melakukan perburuan. Sementara itu, para wanita mengumpulkan bahan makanan seperti buah-buahan dan merawat anak. Mereka yang memilih dan meramu makanan yang akan di makan.
·         Hubungan antar anggota sangat erat, mereka bekerjasama untuk memenuhi kebutuhan hidup serta mempertahankan kelompok dari serangan kelompok lain ataupun dari binatang buas.
·         Populasi pertumbuhan penduduk sangat kecil karena situasi yang berat, dengan peralatan yang masih sanagat primitif membuat mereka tidak dapat selamat dari berbagai bahaya.
·         Masa Bercocok Tanam
       Kehidupan bercocok tanamnya dikenal dengan berhuma, yaitu teknik bercocok tanam dengan cara membersihkan hutan dan menanaminya. Setelah tanah tidak subur maka mereka akan berpindah ke tempat lain yang masih subur dan melakukan hal yang sama seperti sebelumnya. Hal ini dilakukan secara berulang-ulang. Pada perkembangannya mulai menetapkan kehidupan bercocok tanam pada tanah-tanah persawahan
       Telah tinggal menetap di suatu tempat, mereka tinggal di sekitar huma tersebut, dengan cara bercocok tanam dan memelihara hewan-hewan jenis tertentu. Hal ini menunjukkan bahwa mereka telah hidup menetap Hal ini juga menunjukkan bahwa manusia telah dapat menguasai alam lingkungan.
       Dengan hidup menetap, merupakan titik awal dan perkembangan kehidupan manusia unt            uk mencapai kemajuan. Dengan hidup menetap, akal pikiran manusia mulai berkembang dan mengerti akan perubahan-perubahan hidup yang terjadi.
       Jumlah anggota kelompoknya semakin besar sehingga membuat kelompok-kelompok perkampungan, meskipun mereka masih sering berpindah-pindah tempat tinggal.
       Populasi penduduk meningkat. Usia rata-rata manusia masa ini 35 tahun.
       Muncul kegiatan kehidupan perkampungan, oleh karena itu di buat peraturan, untuk menjaga ketertiban kehidupan masyarakat.
        Di        angkat seorang pemimpin yang berwibawa, kuat, dan disegani untuk mengatur para anggotanya.
        Mereka hidup bergotong royong, sehingga mereka saling melengkapi, saling membantu, dan saling berinteraksi dalam upaya memenuhi kebutuhan hidupnya.

b) Kehidupan Ekonomi
·        Masa Perundagian
~        Pada masa ini belum ada tanda-tanda adanya kehidupan ekonomi.
~        Pada masa ini untuk memenuhi kebutuhan hidup mereka bekerjasama dalam kelompok (10-15 orang) untuk berburu dan mengumpulkan makanan. Sehingga kebutuhan hidup mereka dapat dipenuhi dengan cara mengambil apa yang ada di alam. Ketika persediaan makanan di suatu daerah sudah habis maka mereka akan berpindah dan mencari daerah lain yang menyediakan kebutuhan hidup mereka.
~        Memang pada akhir masa ini dapat diketahui bahwa asal kapak genggam dan alat-alat serpih serta alat-alat tulang berasal dari Asia. Namun belum ada bukti-bukti yang menunjukkan adanya tanda-tanda berupa alat penukar.

Kebudayaan kapak perunggu berkembang pada zaman perundagian. Pada zaman perundagian manusia tinggal di daerah pegunungan, daerah rendah dan tepi pantai. Pada zaman perundagian kehidupan manusia merupakan peningkatan cara bertahan hidupa manusia dari zaman sebelumnya.
Pada zaman bercocok tanam, manusia sudah tinggal menetap di desa-desa atau perkampungan serta mengatur kehidupannya menurut kebutuhan bersama, yaitu menghasilkan makanan sendiri terutama dari sektor pertanian dan peternakan, tidak lagi menggantugkan kehidupannya dari pemberian alam. Dalam masa bertempat tinggal menetap ini, manusia berdaya upaya untuk meningkatkan kegiatannya untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Yang terpenting dari peningkatan hidup tersebut antara lain pembuatan benda-benda dari logam seperti kapak perunggu.
Khusus dalam pembuatan alat dari logam diperlukan orang-orang yang terampil, sehingga dalam masa perundagian terdapat kelompok orang yang memiliki keahian khusus, yaitu golongan undagi atau golongan orang-orang yang terampil. Golongan undagi tersebut misalnya dalam pembuatan rumah dari kayu, pembuatan barang-barang gerabah, pembuatan barang dari logam dan sebaganinya.
Walapun pada zaman itu sudah mengenal peralatan dari logam, tetapi karena bahan baku logam dan teknologi pembuatan yang masih terbatas, sehingga peralatan dari dari zaman sebelumnya masih dipergunakan. Hal ini di dasarkan atas penemuan peralatan dari batu di tempat penemuan peninggalan zaman perundagian. Peralatan dari batu kemungkinan masih dipergunakan oleh golongan orang biasa sedangkan peralatan dari logam oleh golongan tertentu, hal ini disebabkan oleh bahan baku dan kemampuan teknologi yang terbatas sehingga peralatan dari logam hanya dipergunakan oleh golongan masyarakat tertentu. Mengingat bahan baku untuk pembuatan peralatan perunggu masih terbatas, dan tidak terapat di sembarangan tempat, maka barang-barang tersebut harus didatangkan dari daerah lain, hal ini berarti adanya sebuah perdagangan. Adanya perdagangan ini berarti adanya sebuah interaksi budaya.
Peninggalan prasejarah masa perundagian menunjukan kekayaan dan keanekaragaman budaya yang tumbuh dan berkembang pada masa itu. Benda-benda hasil penemuan menunjukan adanya sebuah perkembangan kemahiran dalam pembuatan peralatan hidup. Kemajuan-kemajuan yang telah dicapai dalam berbagai bidang akhirnya mempengaruhi terhadap kesejahtraan hidup, sehingga berpengaruh terhadap perkembangan jumlah penduduk. Jumlah penduduk yang sebelumnya bertempat tinggal secara berkelompok telah membentuk sebuah perkampungan. Gabungan dari beberapa perkampungan terdekat akhirnya membentuk sebuah desa. Kebanyakan tempat penemuan yang meninggalkan sisa-sisa kehidupan kelompok manusia tersebut terletak di daerah dekat pantai. Perpindahan penduduk atau pelayaran lebih banyak terjadi pada masa perundagian dari masa sebelumnya. Bentuk mata pencaharian yang berkembang adalah pertanian dalam bentuk perladagangan atau persawahan, nelayan dan perdagangan.
·        Masa Food Gathering
Mereka telah mengenal sistem barter, dimana terjadi pertukaran barang dalam rangka memenuhi kebutuhan hidup mereka. Sistem barter merupakan langkah awal bagi munculnya sistem perdagangan/ sistem ekonomi dalam masyarakat.
Hubungan antar anggota masyarakat semakin erat baik itu di lingkungan daerah tersebut maupun di luar daerah
Sistem perdagangan semakin berkembang seiring dengan semakin berkembangnya kehidupan masyarakat.
Untuk memperlancar diperlukan suatu tempat khusus bagi pertemuan antara pedagang dan pembeli yang pada perkembangannya disebut dengan pasar. Melalui pasar masyarakat dapat memenuhi sebuah kebutuhan hidupnya.

B.    Sistem Kepercayaan Manusia Purba
Sebagai makhluk yang mendiami bumi, tentunya memiliki pemikiran bahwa siapakah yang menciptakan dunia ini dan segala isinya? Serta yang menciptkan kita siapa? Dari pertanyaan-pertanyaan itulah yang menyebabkan manusia purba memiliki sistem kpercayaan yang mereka anggap sebagai pencipta mereka. Berikut ini akan dijelaskan mengenai sistem kepercayaan manusia purba.

1.      MASA BERBURU
         Pada masa ini kepercayaan masyarakat semakin bertambah, bahkan masyarakat juga mempunyai konsep tentang apa yang terjadi dengan seseorang yang telah meninggal
         Inti kepercayaannya, yaitu penghormatan dan pemujaan kepada roh nenek moyang sebagai suatu kepercayaan yang berkembang di seluruh dunia.
         Di Indonesia, kepercayaan dan pemujaan terhadap roh nenek moyang terlihat melalui peninggalan berupa tugu-tugu batu/ bangunan megalitikum yang letaknya di puncak bukit, di lereng gunung/ tempat yang lebih tinggi dari daratan sekitarnya. Hal ini muncul dari anggapan masyarakat bahwa roh-roh tersebut berada pada suatu tempat yang lebih tinggi. Terdapat peninggalan yang berhubungan dengan kepercayaan, yaitu terdapat kebudayaan batu besar seperti menhir, dolmen, sarkofagus, waruga, arca, serta punden berundak
         Kepercayaan masyarakat pada masa ini diwujudkan dalam berbagai upacara tradisi Megalitikum/upacara-upacara keagamaan, persembahan kepada dewa dan upacara penguburan mayat yang dibekali dengan benda milik pribadi ke kuburnya.
         Terdapat kepala suku yang memiliki kekuasaan dan tanggungjawab penuh terhadap kelompok sukunya. Seorang kepala suku dapat mengatur dan melindungi kelompok sukunya dari segala bentuk ancaman seperti, ancaman dari binatang buas, ancaman dari kelompok lainnya, ancaman dari wabah penyakit. Roh nenek moyang selau mengawasi kelompok masyarakatnya. Kepala suku berhak mengambil keputusan apapun.
         Wujud kepercayaan pada masa ini tampak dengan telah dihasilkan bangunan megalit, seperti menhir, dolmen, keranda, kubur batu, dll. Adanya bangunan megalit menunjukkan bahwa pemujaan roh nenek moyang mempunyai tempat penting dalam kehidupan rohani pada masa itu. Pada masa itu telah ada pula upacara yang berkaitan erat dengan kepercayaan atau agama.
2.      MASA PERUNDAGIAN
~        Keberhasilan segala usaha dianggap tergantung pada kekuatan supranatural oleh karena itu setiap usaha harus dimulai dengan upacara khusus untuk mendapatkan restu dari nenek moyang.
~        Dalam seni lukisan semakin menggambarkan kehidupan beragama yang menetap. Lukisan tersebut dimaksudkan untuk memuja roh nenek moyang. Kepercayaan terhadap roh nenek moyang tersebut disertai dengan upacara-upacara tertentu. Pada masa ini golongan ulama memiliki kedudukan yang penting dalam masyarakat, sebab mereka adalah orang yang menghubungkan antara dunia dengan kekeuatan gaib.


C.     Sistem Budaya Manusia Purba
Kehidupan Sosial Budaya
Susunan masyarakat dalam masa perundagian tidak dapat diketahui dengan pasti. Untuk memperoleh gambaran sedikit tentang hasil kehidupan sosial budaya pada masa itu, kita peroleh dari hasil penelitian peninggalan-peninggalan yang berupa kuburan-kuburan yang berasal dari zaman perundagian. Dari kuburan-kuburan tersebut dapat diketahui adanya orang-orang tertentu yang dikuburkan secara upacara khusus. Cara penguburan yang khusus dapat dilihat dari cara penempatan mayat dalam kuburan peti batu, sarkofagus atau tempayan khusus dan sebaginya. Upacara khusus dapat dilihat dari berbagai jenis bekal kubur yang terdapat dalam kuburan-kuburan itu.
Dari penelitian tersebut dapat kita ketahui bahwa ada orang-orang yang dapat diperlakukan khusus setelah mereka meninggal. Dapat diduga bahwa mereka adalah orang-orang yang memiliki kedudukan terkemuka dalam masyarakat. Dari perlakuan khusus terdapat tokoh-tokoh tertentu, maka dalaplah dikatakan bahwa masyarakat pada masa itu telah memiliki norma-norma dalam kehidupan, terutama sikap menghargai kepemimpinan seseorang. Walaupun dapat kita pastikan bahwa masyarakat pada masa itu didasarkan atas gotong royong, namun telah berkembang norma-norma yang mengatur hubungan antara yang dipimpin dan yang memimpin. Norma-norma tersebut tentunya telah tumbuh dan berkembang dalam masa berabad-abad.
Kepercayaan pada masa perundagian di Indonesia sebenarnya tidak berbeda dengan kepercayaan masa bercocok tanam, yaitu pemujaan terhadap roh nenek moyang. Orang beranggapan bahwa roh nenek moyang berpengaruh terhadap perjalanan hidup manusia dan masyarakatnya, karena itu arwah nenek moyang harus selaludiperhatikan dan dihormati dengan mengadakan upacara-upacara dan memberikan sesaji-sesaji. Adanya suatu kepercayaan bahwa orang yang sudah meninggal memerlukan barang-barang seperti semasa hidupnya, maka bagi orang yang terpandang atau mempunyai kedudukan dalam masyarakat, diadakan upacara-upacara penguburan dengan pemberian bekal kubur lengkap. Bekal kubur itu dapt berupa macam-macam barang seperti periuk, benda dari perunggu dan besi, manik-manik dan perhiasan lain serta jenis unggas.
Kehidupan pada masa perundagian diliputi perasaan solidaritas yang tertanam dalam sanubari tiap warga masyarakat sebagai warisan nenek moyang. Sebagai akibat adat kebiasaan dan kepercayaan yang kuat, maka kebebasan individu agak terbatas, karena pelanggaran yang dilakukan dianggap membahayakan masyarakat. Kalau ada orang memiliki kekayaan lebih dari orang lain, kebanyakan ia adalah seorang kepala suku atau mereka adalah orang-orang yang berkedudukan penting dalam masyarakat. Tetapi kekayaan itu pun dipergunakan untuk kepentingan masyarakat. Penguasaan dan pengambilan sumber penghidupan diatur menurut tata tertib dan kebiasaan masyarakat. Pemakaian barang-barang dalam memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari di dasarkan atas sifat magis atas barang-barang tersebut.
Pada masa itu ada kultus kepemimpinan dan pemujaan kepada suatu yang suci di luar diri manusia dan hal ini dikuasai oleh suatu yang lebih tinggi. Dalam masyarakat mulai jelas ada pembedaan golongan-golongan tertentu seperti golongan-golongan pengatur upacara atau berhubungan dengan kepercayaan, golongan petani, golongan pedagang dan para pembuat benda dari logam atau gerabah.
Upacara-upacara bersifat pemujaan ada juga yang berhubungan dengan peranan laut. Sebagai bangsa yang telah lama mengarungi laut, maka dalam masyarakat Indonesia masa perundagian lautpun memegang peranan penting dalam kepercayaan masa itu. Disamping pemujaan leluhur yang telah dilakukan di punden-punden batu berundak, ada pula upacara di laut. Bagaiman bentuk upacara laut pada masa itu, belum bisa diketahui dengan pasti karena belum ditemukan peninggalan-peninggalan yang memberikan petunjuk dengan pasti. Mungkin upacara yang sekarang masih dilakukan oleh para nelayan yang berhubungan dengan laut masih mengandung unsur yang menggambarkan keadaan masa lampau. Misalnya selamatan yang berhubungan dengan pembuatan perahu, sedang laut dan sebagainya.
Kemahiran mengarungi laut telah dimiliki oleh bangsa Indonesia sejak masa prasejarah, dengan demikian pengetahuan mengenai astronomi untuk mengetahui arah pelayaran telah mereka ketahui. Kemudia ini kemudia sangat berguna pada waktu mereka mengembangkan cara bercocok tanam dengan mempergunakan pengetahuan astronomi. Bentuk kepercayaan masa perundagian dapat kita ketahui melalui benda-benda peninggalan yang kita temukan dari masa itu.
Keterangan pertama tentang kapak perunggu diberitakan Ramphius pada awal abad ke-18. Sejak sertengahan abah ke-19 mulai dilakukan pengumpulan dan pencatatan asal-usulnya oleh Koninklijk Bataviaasch Genootschap. Kemudian penelitian ditingkatkan kea rah tipologi dan uraian tentang distribusi dan konsep religious mulai dicoba berdsarkan bentuk dan pola hiasannya. Secara tipologis kepak perunggu dapat dibagi dalam dua golongan, yaitu kapak corong (kapak sepatu) dan kapak upacara. Kemudian Heekeren mengklasifikasikan kapak ini menjadi kapak corong, kapak upacara dan tembilang atau tajak. Pembagian ini diperluas lagi oleh Soejono dengan mengadakan penelitian lebih cermat tentang bentuk-bentuk kapak dan membagi kapak perunggu menjadi delapan tipe pokok dengan menentukan daerah persebarannya.
D.   Pola Berburu dan Meramu/Bercocok Tanam
Manusia prasejarah pada waktu berburu dan mengumpulkan makanan menghadapi berbagai kesulitan. Keadaan alam masa itu masih liar dan keadaan bumi belum stabil. Letusan gunung berapi masih sering terjadi disertai gempa bumi yang menakutkan, demikian pula lahar panas yang membara mengancam kehidupan manusia. Aliran sungai kadang-kadang berpindah sejalan dengan perubahan bentuk permukaan bumi.
Mereka hidup berpidah-pindah tempat, mencari daerah yang dapat menghasilkan makanan. Karena sulitnya mencari bahan makanan, pertumbuhan populasi mereka sangat sedikit dan banyak yang mati dan akhirnya punah. Seperti diketahui, alat-alat pada zaman Paleolithikum terdiri atas kapak-kapak genggam dan alat dari tulang atau tanduk rusa yang berbentuk belati dan ada pula alat dari tulang yang sisinya bergerigi dan dipergunakan untuk ujung tombak. Alat-alat itu dipergunakan untuk berburu atau menangkap ikan. Alat lainnya dipergunakan untuk mengorek ubi dan keladi dari dalam tanah.

Hewan-hewan yang diburu antara lain rusa, kuda, babi hutan, kijang, kerbau, kera, gajah, kuda nil, dan beberapa jenis hewan buas lainnya. Suatu cara berburu mereka antara lain dengan membuat lubang-lubang jebakan atau menggiring hewan ke arah jurang yang terjal.

Kelompok berburu terdiri atas keluarga kecil dengan pembagian tugas yaitu: yang laki-laki melakukan pemburuan dan yang perempuan mengumpulkan makanan, tumbuh-tumbuhan, dan hewan-hewan kecil yang tidak memerlukan tenaga besar. Tempat-tempat yang menarik bagi mereka untuk dihuni ialah daerah yang cukup mengandung bahan makanan dan air, terutama di sekitar tempat-tempat yang sering dilalui buruan. Tempat-tempat semacam itu berupa padang-padang rumput dengan semak belukar dan hutan kecil yang terletak berdekatan dengan sungai atau danau. Hewan yang berkeliaran di tempat-tempat itu menjadi binatang buruan.
Untuk menghadapi kemungkinan bahaya, mereka hidup berkelompok dan berlindung dalam gua-gua. Bahaya itu datang dari serangan binatang-binatang buas yang diburunya atau bencana alam yang sering terjadi, seperti letusan gunung berapi.

Masyarakat berburu dan mengumpulkan makanan telah mengenal api, menyalakan dan memeliharanya. Api ternyata bermanfaat bagi kehidupan manusia untuk berbagai keperluan, misalnya memanaskan makanan, membakar daging supaya menjadi lunak untuk dikunyah, untuk penerangan, dan mengusir binatang buas yang hendak mengganggu. Api mula-mula dikenal dari gejala alam, misalnya percikan gunung berapi, kebakaran hutan yang sering ditimbulkan oleh halilintar atau nyala api yang tersembur dari dalam bumi, karena mengandung gas. Secara lambat laun mereka dapat menyalakan api dengan cara menggosok batu dengan batu yang mengandung unsur besi, sehingga menimbulkan percikan api. Percikan-percikan api itu ditampung pada semacam lumut kering, sehingga terjadi bara api. Pada masyarakat food gathering, mereka sangat menggantungkan diri pada alam. Dimana daerah yang mereka tempati harus dapat memberikan persediaan yang cukup untuk kelangsungan hidup. Oleh karena itu mereka selalu berpindah-pindah.

Sebab mereka hidup berpindah-pindah adalah sebagai berikut:

·         Binatang buruan dan umbi-umbian semakin berkurang di tempat yang mereka diami.
·         Musim kemarau menyebabkan binatang buruan berpindah tempat untuk mencari sumber air yang lebih baik.
·         Mereka berusaha menemukan tempat dimana kebutuhan mereka tersedia lebih banyak dan mudah diperoleh.
·         Mereka masih hidup mengembara. Tempat tinggal sementara di gua-gua. Ada pula kelompok yang tinggal di daerah pantai
·         Mencari makanan berupa binatang buruan dan tumbuh-tumbuhan liar di tepi sungai atau danau. Mereka mencari kerang sebagai makanannya.
·         Mereka hidup dalam kelompok-kelompok kecil untuk memudahkan pergerakan dalam mengikuti binatang buruan/ mengumpulkan makanan.
·         Dalam kelompok-kelompok tersebut terdapat pembagian tugas kerja. Laki-laki pada umumnya melakukan perburuan. Sementara itu, para wanita mengumpulkan bahan makanan seperti buah-buahan dan merawat anak. Mereka yang memilih dan meramu makanan yang akan di makan.

·         Hubungan antar anggota sangat erat, mereka bekerjasama untuk memenuhi kebutuhan hidup serta mempertahankan kelompok dari serangan kelompok lain ataupun dari binatang buas.
·         Populasi pertumbuhan penduduk sangat kecil karena situasi yang berat, dengan peralatan yang masih sanagat primitif membuat mereka tidak dapat selamat dari berbagai bahaya.

MASA PERTANIAN
§  Bertani adalah mata pencahariannya. Mulai membudidayaakan tanaman dan hewan peliharaan tertentu seperti membudidayakan tanaman padi dan memelihara kerbau sebagai hewan ternak
§  Mereka sudah berladang/ bersawah, dalam bekerja mereka melakukan secara bersama-bersama/ secara gotong-royong. Dengan alat pendukung kapak perunggu yang berfungsi sebagai pacul.
§  Untuk mengisi waktu menunggu musim panen tiba mereka membuat anyaman dari bambu/ rotan
§  Mendiami tempat-tempat kecil dengan tujuan untuk menghindari serangan binatang buas
§  Mulai mendirikan rumah sebagai tempat berteduh dengan cara bergotong-royong yang disertai dengan upacara tradisional. Mulai menetap dalam waktu yang cukup lama. Mereka sudah mengenal pertukangan dengan alat pendukung berupa kapak beliung yang berfungsi sebagai alat pemotong kayu. Dengan alat-alat tersebut digunakan untuk mendirikan rumah dengan cara gotong-royong pula.
§  Muncul ikatan sosial antara masyarakat dan keluarga
§  Muncul struktur kepemimpinan di kampung
§  Mulai digunakan bahasa sebagai alat komunikasi
§  Mereka telah memiliki aturan dalam kehidupan masyarakat guna ketertiban dan   rapinya kerjasama dengan cara pembagian kerja
§  Mereka memiliki kebiasaan untuk menyelenggarakan upacar adat tertentu.



PENUTUP
            Dengan berakhrnya pembahasan dari pola berburu dan meramu makanan, maka berakhir pula materi dalam makalah ini. Apabila dalam makalh ini terdapat kesalahan saya mohon maaf yang sebesar-besarnya, karena mungkin dalam makalah ini terdapat keslahan, tapi iinilah yang dapat saya berikan kepada para pembaca sekalian. Saya ini hanyalah manusia yang tak luput dari kesalahhan, jjika memang terdapat kesalahan, saya mohon saran dan nasehat sehat dari para pembaca sekalian agar makalah kedepannya bisa lebih sempurna.


DAFTAR PUSTAKA

Organisasi.Org Komunitas & Perpustakaan Online Indonesia
Wikipedia.com


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar